Pusaka Selogiri, pusaka bagi anak negeri

Di dalam tugu yang berbentuk semacam piramida kecil itu, tersimpan senjata pusaka milik Mangkunegaran, Surakarta. Ada tiga buah senjata pusaka yang terdiri dari dua buah keris dan satu tombak. Ketiganya peninggalan Raden Mas Said (Mangkunegara I) atau yang terkenal dengan gelar Pangeran Samber Nyawa. Masing-masing senjata itu mempunyai nama sebutan. Satu keris bernama Kyai Koriwelang, satunya lagi disebut Kyai Jaladara, sedangkan tombaknya diberi nama Kyai Totok. Ketiga senjata pusaka itu disimpan di bagian puncak tugu yang berbentuk semacam kotak. Kotak itu ditutup dengan semacam lempengan yang terbuat dari batu.

Ketiga pusaka itu ‘berjasa’ saat digunakan dalam peperangan melawan Belanda di wilayah Selogiri. Dikisahkan di masa itu, Belanda berupaya menguasai wilayah yang sekarang ini masuk Kabupaten Wonogiri. Masa itu Surakarta dibawah kendali Mangkunegaran. Raden Mas Said penguasa Mangkunegaran menggunakan senjata-senjata pusaka itu melawan imperialisme Belanda. Bersama rakyat Selogiri beliau berhasil mengusir pasukan Belanda.

Pada 1935, saat kekuasaan Mangkunegara VII, ketiga senjata pusaka itu diserahkan kepada masyarakat Selogiri. Hal itu dilakukan sebagai ungkapan terima kasih atas jasa-jasa yang telah diberikan masyarakat Selogiri mengusir Belanda. Setelah menerima ketiga pusaka itu, dibangunlah sebuah bangunan berbentuk tugu, yang kemudian dikenal dengan sebutan Tugu Ireng seperti disebutkan diatas.

Menariknya setiap tahun dilakukan perawatan pusaka-pusaka itu dengan adat upacara ‘jamasan.’ Jamasan berupa pemandian pusaka-pusaka yang dianggap keramat. Upacara jamasan itu dilakukan setiap satu tahun sekali pada hari Jumat pertama di bulan Suro.

Nilai-nilai budaya yang terkandung dalam prosesi jamasan lekat dengan balutan religius budaya Jawa dan sosial budaya (gotong royong). Maka tak mengherankan sejak hampir dua dekade Pemerintah Daerah Kabupaten Wonogiri mengemas upacara jamasan itu sebagai daya tarik obyek wisata dengan maksud mendatangkan wisatawan baik domestik maupun asing.

Hingga saat ini, Tugu Ireng masih berdiri dengan kokoh menyimpan kisah heroik bagi anak, cucu dan keturunan masyarakat sekitarnya. Kisah perjuangan mempertahankan tanah air, dan rasa nasionalisme generasi yang semakin terkikis oleh perkembangan jaman. Mungkin akan sangat bermanfaat untuk diceritakan kisah-kisah perjuangan itu bagi adik-adik generasi muda kita. Selain mengenal sejarah juga memberikan inspirasi soal nasionalisme, cinta tanah air dan bangsa.

tugudisadur dari : http://edukasi.kompasiana.com/2013/08/08/menengok-tugu-ireng-tugu-penyimpanan-pusaka-sakti-mangkunegaran-surakarta-582951.html

Share Button

You may also like...