Krakatau pelepas galau

Siapa yang tak kenal Gunung Krakatau, dahsyatnya letusan masa lalu menghebohkan dunia bahkan menurut cerita Selat Sunda terbentuk akibat letusan itu, jadi dahulu Pulau Jawa dan Pulau Sumatera menjadi satu. Kini Gunung Krakatau memang sudah tidak aktif lagi namun dilanjutkan keaktifannya oleh Gunung Anak Krakatau. Letusan-letusan kecilnya selalu menjadi pemberitaan, seperti letusanya pada tanggal 15 september tahun lalu. Gunung Anak Krakatau yang tanpa ayah ini, menyimpan keindahan yang dapat menandingi kemahsyuran sang ibu. Mulai dari spot-spot sekitar Gunung hingga tracking mendaki yang hanya sekitar 30 menit saja kita telah berada di kepundan tertinggi Gunung Anak Krakatau.

1468675_192953727559500_606359482_n

Melihat pemandangan bawah laut dengan bersnorkeling di sekitar pulau-pulau kecil yang tersebar mengelilingi Gunung Anak Krakatau menjadi sebuah kegiatan yang mengasyikan seperti di spot Pulau Sebuku, Pulau Geligi, Pulau Umang-umang dan Lagoon Cabe. Bagi mereka yang belum pandai berenang, gak usah takut karena ranger perahu kayu yang kita sewa akan membantu kita memulai snorkeling dengan memakai pelampung. Bersnorkeling dengan memberi makan roti pada ikan-ikan menjadi makin seru manakala ikan-ikan berebut menghampiri tangan kita yang memegang roti. Terumbu Karang sebagai hiasan dasar laut bagaikan kita berada di akuarium raksasa, aneka bentuk dan warna terumbu karang sangat sedap dipandang mata. Bagi yang sudah pandai berenang cobalah sedikit menyelam di kedalaman 2-3 meter, maka kita akan berpetualang berenang di sela-sela terumbu karang layaknya ikan atau kita bisa menghampiri ikan badut yang lucu dan melihatnya langsung dari dekat.

Setelah puas dengan pemandangan bawah laut kini saatnya kita mendaki Gunung Anak Krakatau. Pulau Sebesi yang berpenghuni adalah tempat kita menginap, ada penginapan yang tersedia buat pengunjung atau ber-home stay ria berbaur dengan penduduk juga bisa. Berangkat menuju Gunung Anak Krakatau dari Pulau Sebesi pukul 03.00 dini hari, dengan berperahu menempuh perjalanan selama 2 jam maka kita telah berada di kaki Gunung Anak Krakatau. Mendaki saat masih gelap dengan berharap mencapai puncak saat matahari terbit. Sepanjang perjalanan kita disuguhkan track yang berpasir dan tandus hanya sepertiga diawal saja yang masih hijau dengan pohon-pohon yang cukup tinggi. Track berpasir adalah hasil dari letusan vulkanik dan bongkahan-bongkahan lava yang telah dingin serta material batu cadas hasil muntahan letusan tersebar disana-sini solah-olah kita sedang berada di planet lain.

1471170_200836670104539_1069015010_n

Terbayar rasa pegal di kaki saat mendaki manakala kita telah mencapai kepundan tertinggi dimana posisi itu adalah batas aman kita, memang puncak Gunung Anak Krakatau terlihat sangat dekat ingin rasanya mendaki hingga puncak, namun sayang pasir menuju puncak sangat labil dan mulai terasa panas. Pengunjung dilarang mendaki hingga ke puncak demi keselamatan. Matahari mulai menampakan sinarnya di ufuk timur, itulah moment terindah saat langit mulai terang secara perlahan. Samar-samar terlihat sang Ibu Gunung Krakatau dipisahkan oleh laut tidak begitu jauh dari Sang Anak. Perjalanan menikmati pesona Gunung Anak Krakatau memang dapat melepaskan hati yang sedang galau.

1236398_176235892564617_466348893_n

Share Button

You may also like...