Jelajah Makassar 3 hari 3 malam

Insiden

Perjalanan ini diawali dengan delay jadwal penerbangan oleh Lion, hampir semua tujuan pada hari kamis tanggal 30 Januari 2014 terlambat. Penumpang komplain dengan emosi karena tidak ada kejelasan, pengumuman keterlambatan serasa dicicil per-satu jam sekali. Nasi box yang kurang layak di berikan sesuai aturan hingga akhirnya penumpang mendesak untuk berangkat hari itu juga dan diberikan kompensasi sebesar Rp. 300.000 cash karena sudah terlambat empat jam. Tuntutanpun dipenuhi, penumpang mendapat uang kompensasi saat memasuki pesawat namun sekali lagi harus menunggu dokumen penerbangan selama 1 jam di dalam cabin pesawat. Akhirnya pesawatpun mengudara sambil bergoyang-goyang cukup keras saat memasuki awan hujan, doa dipanjatkan untuk keselamatan.

Perjalanan Panjang

Bergetar badan pesawat sepanjang perjalanan Jakarta – Makassar dan kami bersyukur masih bisa mendarat dengan selamat. Hari jumat tanggal 31 Januari 20014 pukul 03.00 dini hari perjalanan dengan mobil minibus menuju Tana Toraja dimulai. Kondisi jalan yang kurang bagus dan berkelok mewarnai rute Makassar – Tator yang di tempuh kurang lebih 8 jam. Sebelum memasuki Tator, kami menikmati pemandangan Gunung Nona di Kabupaten Enrekang.

Untitled-2

Gunung Buttu kabobong merupakan salah satu objek wisata yang sangat terkenal di Kabupaten Enrekang. Buttu berarti gunung sedangkan Kabobong berarti erotik. Struktur batu gunung ini terdiri dari batu pasir yang merupakan dasar laut yang terangkat melalui proses yang cukup panjang sehingga terbentuklah gunung ini. Gunung ini menjadi menarik dan terkenal karena bentuknya yang sangat unik, yaitu menyerupai alat kelamin wanita. Oleh karena itu, banyak orang menyebutnya dengan sebutan Gunung Nona.

Perjalanan dilanjutkan dan kami kembali menikmati Pintu Gapura Selamat Datang di Tana Toraja, gapura besar bermahkota rumah adat Toraja yaitu Tongkonan ini memang unik. Kita dapat naik ke lantai atas gapura dan berfoto ria karena memang cukup luas dengan ornamen Tongkonan besarnya, patung-patung berbentuk warga Toraja yang memakai pakaian adat di sebelah kiri dan kanannya . Setelah puas berfoto perjalananpun kami lanjutkan.

IMG_9508

Tibalah kami di Kecamatan Makale, sebuah kota kecil yang cukup ramai sebagai pintu masuk tempat wisata ke Tana Toraja. Makale merupakan ibukota Kabupaten Tana Toraja. Pusat Kota Makale ditandai dengan adanya danau buatan. Kemudian di danau tersebut terdapat patung membawa tongkat. Mungkinkah itu patung dari Pong Tiku yang merupakan pahlawan asal Toraja?

Grabbed Frame 9

Setelah melewati Kecamatan Makale, disisi sebelah kanan sepanjang jalan menuju kota Rantepao banyak pertigaan jalan masuk ke tempat-tempat wisata Tana Toraja seperti yang tergambar pada peta di bawah ini. Kami langsung menuju Kota Rantepao untuk makan siang terlebih dahulu. Kota Rantepao lebih ramai dari Kecamatan Makale, ini disebabkan banyaknya hotel dan penginapan juga rental motor dan mobil untuk berwisata, jadi wisatawan biasanya langsung menuju kota ini. Warung-warung makananpun banyak mulai dari babi hingga yang non babi silakan pilih sesuai selera.

ranmap

Usai Makan kami mengunjungi pasar Bolu, pasar tradisional yang menjual berbagai macam kebutuhan rumah tangga. Bolu artinya ikan bandeng, memang banyak yang menjual ikan tersebut namun yang menjadi perhatian kami adalah Tedong (kerbau). Kerbau menjadi nilai gengsi dan status sosial pada masyarakat Toraja. Harganyapun selangit, yang termurah dengan warna hitam semua, level ke dua yang belang putih-hitam dan yang termahal berwarna putih semua namun relatif tergantung dari body si kerbau tersebut, harganya bisa sampai 300juta per-ekor. Dipasar hewan Bolu Rantepao Toraja, kita seperti memasuki showroom mobil mewah. Kerbau dan babi di gunakan sebagai persembahan saat pesta kematian (Rambu Solo) dan pesta pernikahan (Rambu Tuka). Rambu Solo biayanya lebih mahal dibanding Rambu Tuka karena persembahan kerbau dan babi yang dipotong lebih banyak, semakin banyak tedong putih yang di potong akan semakin jelas jika si empunya hajat adalah seorang bangsawan dan tedong dipercaya sebagai kendaraan menuju surga.

IMG_9534

Setelah dari Pasar Bolu kita menuju Desa Kete Kesu yang terletak 4 km di bagian tenggara Rantepao, Kete Kesu terdiri dari padang rumput dan padi yang mengelilingi rumah adat Tana Toraja, yaitu Tongkonan. Sebagian rumah adat yang terletak di desa ini diperkirakan berumur sekitar 300 tahun dan letakknya berhadapan dengan lumbung padi kecil. Di dalam salah satu Tongkonan terdapat museum yang berisi koleksi benda adat kuno Toraja, mulai dari ukiran, senjata tajam, keramik, patung, kain dari Cina, dan bendera Merah Putih yang konon disebutkan merupakan bendera pertama yang dikibarkan di Toraja. Selain itu, di dalam museum ini juga terdapat pusat pelatihan pembuatan kerajinan dari bambu. Masyarakat yang hidup di desa ini umumnya memiliki keahlian sebagai pemahat dan pelukis, sehingga selain sebagai objek wisata, tempat ini juga dimanfaatkan untuk menjual berbagai pahatan dan suvernir tradisional Toraja. Desa Kete Kesu merupakan kawasan cagar budaya yang paling banyak memiliki Tongkonan dan pusat berbagai upacara adat Toraja yang meliputi Rambu Solo dan Rambu Tuka yang dirayakan dengan meriah serta berbagai ritual adat lainnya.

IMG_9576

Tujuan kami selanjutnya adalah Londa, kuburan bagi keluarga bangsawan yang tidak di kubur atau dikremasi tapi diletakan begitu saja dalam gua. Diletakan bersama peti matinya, jika sudah mulai tinggal tengkoraknya akan di keluarkan diletakan di dinding-dinding gua dengan upacara adat khusus.

Dalam agama aluk, hanya keluarga bangsawan yang berhak menggelar pesta pemakaman besar. Pesta pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ribuan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Sebuah tempat prosesi pemakaman yang disebut Rante biasanya disiapkan pada sebuah padang rumput yang luas, selain sebagai tempat pelayat yang hadir, juga sebagai tempat lumbung padi, dan berbagai perangkat pemakaman lainnya yang dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan. Musik suling, nyanyian, lagu dan puisi, tangisan dan ratapan merupakan ekspresi duka cita yang dilakukan oleh suku Toraja tetapi semua itu tidak berlaku untuk pemakaman anak-anak, orang miskin, dan orang kelas rendah.

IMG_9629

Hari telah telah sore, jam menunjukan pukul 17.00, kamipun kembali ke Makassar untuk beberapa tujuan ke tempat wisata lainnya. Perjalanan panjang melelahkan namun berkesan, Toraja yang sudah mendunia masa sih kita sebagai bangsa Indonesia belum melihatnya… Memang ada pesawat menuju Toraja namun jadwalnya tidak setiap hari. Kami tiba di Makassar hari Sabtu pukul 02.00 dini hari, langsung tidur di penginapan yang sudah kita pesan sebelumnya.

Ombak di Tanjung Bira

Delay pesawat membuat molor jadwal kami, istirahat yang cukup menjadi keharusan terutama bagi driver. Perjalanan menuju Pantai Tanjung Bira pukul 10.00 yang seharusnya Pukul 07.00 pagi ditempuh dalam waktu kurang lebih 5 jam. Setibanya di Pantai Tanjung Bira Pukul  15.00 saat itu angin besar hingga pasir pantai berterbangan dan ombaknya-pun menggulung tidak ada speed boat yang berani menyeberang ke pulau Liukang Loe seperti rencana kami semula. Tapi langit cukup cerah, tidak hujan tidak seperti kemarin yang hujan lebat dan badai, cerita warga setempat. Kondisi cuaca yang seperti ini sejak kemarin membuat warung-warung makan tutup, kami-pun kelaparan. Setelah bertanya sana-sini ternyata di bagian pelabuhan Tanjung Bira ada warung makan yang buka dan ombaknya lebih tenang tidak berangin. Cukup aneh memang cuacanya, jarak pelabuhan dan pantai hanya 1 Km saja tapi lebih tenang dan kami-pun bisa bersnorkeling dan menyelam bebas di bagian timur dari pelabuhan itu. Usai kegiatan dan makan kita kembali ke Kota Makassar pukul 18.00 sore dan tiba pukul 12.00 malam.

1622256_221478264707046_30421037_n

Pesona Samalona

Pulau Samalona yang tidak berapa jauh dari Pelabuhan Soekarno-Hatta Kota Makassar dan hanya 30 menit menyeberang dengan kapal kayu. Minggu pagi pukul 07.00 kami menuju Pulau kecil cantik ini memiliki terumbu karang dengan ikan badut atau nemo yang banyak di spot underwater dekat menara suar. Sayang saat itu ombak daan arusnya cukup kuat, sesekali kita terbawa ke bagian yang cetek dan terluka akibat goresan terumbu karang.

P1040707

P1040752

Bantimurung Bulusaraung

lanjut ke Taman Nasional Bantimurung, Secara administrasi pemerintahan, kawasan Taman Nasional ini terletak di wilayah Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene Kepulauan(Pangkep).Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung memiliki berbagai keunikan, yaitu: karst, goa-goa, air terjun yang besar berarus deras dan yang paling dikenal adalah kupu-kupu. Bantimurung oleh Alfred Russel Wallace dijuluki sebagai The Kingdom of Butterfly (kerajaan kupu-kupu). Sayang saat kami datang musim hujan, jadi kupu-kupunya malas keluar dari kepompong.

SONY DSC

Usai Sudah

Saatnya kembali ke Jakarta, namun sayang kalo belum belanja ole-ole khas Makassar. Di Jalan Somba Opu banyak took-toko menjual souvenir hingga panganan khas seperti otak-otak. O ya selama jelajah Makassar 3 hari ini kami juga menyempatkan diri untuk wisata kuliner seperti Coto Makassar, Sop Saudara dan Ikang bakar dengan bumbu pedasnya khas Makassar. Memang padat jadwal kami, cukup menguras fisik namun tetap dapat cerita manis.

Share Button

You may also like...